IMPLEMENTASI
NILAI-NILAI IBADAH QURBAN DALAM HIDUP BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA
Oleh:
H. Aan Farhani, Lc., M.Ag.
الله أكبر 9× الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله
بكرة وأصيلا لاإله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده.
الحمد لله الذي شرع لعباده طريق العبادة ويسر, وأنار قلوب أوليائه بنور طاعته
وأبصر, وجعل لهم بكمال قربانهم عيدا يعود كل سنة ويتكرر. أحمده سبحانه وتعالى وهو
المستحق لأن يحمد و يشكر. أشهد أن لا إله إلا الله الذي خلق وقدر وأشهد أن محمدا
عبده ورسوله صاحب اللواء والكوثر. اللهم صل وسلم علي سيدنا ومولانا محمد وعلي آله
وأصحابه وأوليائه الذين أذهب الله عنهم الرجس وطهر. أما بعد: معاشر المسلمين و
المسلمات رحمكم الله اتقوا الله وأصيكم ونفسي بتقوى الله, فإنه قال: اتقوا الله حق
تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون, وقال تعالي أيضا: "إنا أعطيناك الكوثر فصل
لربك وانحر إن شانئك هو الأبتر" وقال أيضا: لن ينال الله لحومها ولا دماؤها
ولكن يناله التقوى منكم. صدق الله العظيم
Allahu Akbar 3x walillahi al-hamd.
Kaum Muslimin dan Muslimat
Rahimakumullah,
Lebih dari dua bulan yang lalu,
tepat 68 hari dari sekarang, kita hadir di mesjid ini untuk melaksanakan Hari
Raya Idul Fitri, hari raya pertama dalam Islam yang melambangkan kemenangan
orang-orang Islam dalam perjuangan melawan hawa nafsu melalui ibadah puasa.
Sekarang, di pagi hari yang cerah ini, kita kembali hadir di mesjid ini, duduk
tafakkur, bermunajat kepada Allah, mengumandangkan takbir dan tahmid,
mengalunkan tasbih dan tahlil, memuji kemahabesaran dan kemahamuliaan Allah,
menggaungkan kemahakuasaan dan kemahasucian-Nya, mensyukuri nikmat karunia-Nya
sambil melaksanakan shalat dua raka`at kemudian mendengarkan khutbah, sebagai
pelaksanaan hari raya kedua Islam, Idul Adha, hari raya Qurban.
Hari raya Idul Adha disebut
juga hari raya haji sebagai simbol dari persatuan umat sedunia yang berdasarkan
atas asas kebersamaan yang hakiki, asas persaudaraan yang sejati, asas
kemanusiaan yang universal, bahkan asas kemakhlukan yang bernuansa spiritual.
Itulah sebabnya, dalam berhaji terdapat berbagai macam larangan, mulai dari
larangan bercekcok dan berbantah-bantahan sampai kepada larangan merusak atau
mematikan makhluk hidup, baik flora maupun fauna di tanah Suci Haram.
Larangan-larangan itu menyiratkan makna yang amat dalam dari ajaran Islam yang
intinya adalah menjaga keharmonisan hubungan kemanusiaan dalam bentuk persatuan
dan kesatuan yang kokoh, dan menjaga keseimbangan kosmos dalam bentuk
pelestarian lingkungan hidup yang damai.
Ajaran
dasar dan agung dari Islam ini mestinya dapat kita hayati bersama dan mestinya
dapat kita terapkan dengan baik dalam keseharian kita, baik dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat yang terkecil yaitu bertetangga, maupun dalam kehidupan
bermasyarakat yang lebih besar yaitu berbangsa dan bernegara; bahkan lebih
besar lagi dari itu yakni hubungan kemanusiaan tanpa mempersoalkan latar
belakang primordial, suku, bangsa, agama, ras, dan sebagainya. Inilah makna
kerahmatan Muhammad saw. dan kandungan dari universal Islam untuk semua
manusia.
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
"Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan
untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam."
(Q.S. al-Anbiya’: 107).
Allahu Akbar 3x
walillahilhamd.
Kaum
Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia,
Persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan kebersamaan selalu diidamkan
kehadirannya, selalu didambakan perwujudannya di antara sesama umat manusia,
dan umat beragama, terutama sekali umat Islam, haruslah menjadi pelopornya yang
pertama dan utama. Persatuan dan persaudaraan dibutuhkan dalam suka dan duka,
didambakan dalam senang dan susah. Tetapi persatuan dan persaudaraan yang
sejati akan lebih dibutuhkan lagi dalam keadaan susah dan duka, dan dalam
suasana yang terakhir inilah akan terlihat kesejatian dan kemurnian dari
persatuan dan persaudaraan itu.
Ketika kita dalam senang dan gembira, ketika kita sedang berada di
singgasana kesuksesan, begitu mudah mencari teman dan saudara. Tetapi di kala
kita dalam duka dan derita, ketika kita jatuh terpuruk dalam hina dan nista
begitu sulit mencari karib dan keluarga. Sebabnya tidak lain karena manusia
sangat sulit melepaskan diri dari interest dan pamrih pribadi, bahkan tidak
jarang ada manusia tega membiarkan saudaranya menderita tanpa mengulurkan
tangan membantunya meskipun ia berkemampuan dan berkesempatan melakukannya. Apa
yang sering digemborkan sebagai kepedulian sosial atau kesetiakawanan sosial
lebih banyak bersifat retorika daripada fakta dan realita.
Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi umat Islam yang benar-benar
konsisten pada nilai-nilai Islam yang sangat mementingkan aspek-aspek moral dan
sosial dari ajaran-ajarannya. Setiap aspek ajaran Islam pasti mempunyai kaitan
langsung maupun tidak langsung dengan aspek moral dan sosial, sehingga istilah hablun
minallah dan hablun min al-nas merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan. Dalam istilah lain, aspek ritual atau peribadatan yang biasanya
sangat diutamakan oleh orang-orang Islam sesungguhnya mempunyai kaitan yang
sangat erat dengan aspek moral dan sosial. Keber-Islaman yang terfokus hanya
pada aspek peribadatan dengan melalaikan aspek sosial dan moral sungguh-sungguh
merupakan praktek keagamaan yang masih jauh dari Islami. Bahkan al-Qur’an
mengancam orang-orang yang rajin shalat tetapi lalai dalam memperhatikan kaum
dhu`afa dan fuqara, termasuk anak-anak yatim, dengan ancaman neraka wayl (api
yang sangat dahsyat nyalanya) sebagaimana tercantum dalam Q.S. al-Ma`un.
Allahu
Akbar 3x walillahilhamd
Kaum Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia
Ibadah qurban yang juga diwarisi dari bapak para Nabi; Ibrahim as.,
mengandung nilai-nilai moral dan sosial yang tinggi. Orang Muslim yang memiliki
kemampuan material sangat dianjurkan memotong hewan qurban sebagai wujud
pengabdian dan rasa syukur yang dalam kepada Allah swt. sekaligus sebagai wujud
dari rasa persaudaraan, kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama umat Islam
yang kebetulan kurang beruntung. Ketika kita memotong hewan qurban, aspek
ritualnya adalah mendekatkan diri kepada Allah.
Jika kita kembali menelusuri apa yang dilakukan oleh nabi Ibrahim
terhadap puteranya Ismail as., bermula dari suatu isyarat mimpi yang benar dari
Allah swt. sebagaimana yang dikisahkan dalam al-Qur’an:
فلما
بلغ معه السعي قال يابني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى قال يا أبتي
افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين
"Maka tatkala anak itu sampai
(pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah
apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(al-Shaffat: 102).
Tidak
dapat kita bayangkan betapa goncangnya jiwa Ibrahim as. ketika menerima wahyu
itu, ia mengalami konflik di dalam batinnya, siapakah yang lebih disayangi;
Ismail atau Allah? Ego atau super-ego? Kesenangan atau keyakinan dan
perjuangan? Kepatuhannya benar-benar diuji dipuncak kesempurnaan kenabiannya
melalui ujian yang ternyata lebih sulit daripada semua perjuangannya yang
terdahulu. Bila gagal menempuh ujian tersebut, maka kegagalannya ibarat jatuh
dari puncak tertinggi, padahal kejatuhan dari puncak yang paling tinggi adalah
kejatuhan yang paling mencelakakan dan paling menyedihkan. Dan ternyata Ibrahim
juga Ismail telah melampaui ujian tersebut dengan gemilang. Firman Allah dalam
al-Qur’an surat al-Shaffat: 106-107:
إن هذا لهو البلاء المبين وفديناه بذبح عظيم
"Sesungguhnya ini benar-benar
suatu ujian yang nyata dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang
besar."
Allahu Akbar 3x
walillahilhamd.
Kaum
Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia
Keberhasilan Ibrahim yang gemilang ini sesungguhnya tidak terlepas dari
kesadaran akan makna suatu penyerahan diri dengan menyelami dengan sangat dalam
makna dari Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un (sesungguhnya kita ini
adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali). Dengan memahami makna Inna
lillahi, Ibrahim menyadari bahwa walau Ismail ini adalah puteranya yang
sangat ia cintai, ia tidak lebih dari hanya suatu titipan dari Allah dan bukan
miliknya. Sementara itu, ismail menyadari pula bahwa ia tidak pernah memiliki
dirinya sendiri serta apapun yang lain dalam kehidupannya. Ia tidak pernah
merancang bahkan juga tidak berniat untuk lahir dan menjadi seorang anak
manusia, termasuk menjadi putera Ibrahim, ia ada karena Allah swt. yang
memungkinkan dan mengizinkan untuk ada.
Dalam pemahaman yang demikian, berarti pengorbanan yang dilakukan oleh
Ibrahim dan Ismail as., hanyalah bersifat pengembalian hak Allah kepada Allah,
sebagai aktualisasi asas kesadaran mereka berdua akan makna Inna lillahi wa
inna ilaihi raji`un.
Dengan demikian tidak ada
sesuatupun yang hilang dari keduanya dengan penyembelihan hewan qurban, karena
memang asalnya mereka tidak memiliki apapun juga tidak terhadap dirinya
sendiri. Untuk itulah, ketika Ibrahim menyembelih Ismail, dan Ismail merelakan
nyawanya, tidaklah berarti Ibrahim mengorbankan anaknya, dan Ismail
mengorbankan hidupnya, akan tetapi keduanya mengembalikan hak Allah kepada
Allah.
Pengembalian hak itu ditempuh Ibrahim as. dengan cara melepaskan,
menaklukkan dan memusnahkan kepentingan pribadinya, yaitu rasa memiliki
anaknya, sementara Ismail as. menempuh dengan cara menaklukkan rasa memiliki
diri sendiri.
Hadirin
yang berbahagia
Allahu
Akbar 3x walillahil hamd
Di sekitar kita bahkan pada diri kita sendiri terdapat banyak contoh
dari sikap mementingkan diri sendiri, baik yang ia sadari maupun yang tidak
disadari. Memang jihad yang sesungguhnya adalah jihad melawan kemauan dan
egoisme diri, yang sering justeru lebih menguasai manusia baik secara individu
maupun kelompok. Ketika egoisme diri atau kelompok menguasai manusia, ketika
itulah manusia melupakan Tuhan dan mengabaikan ajaran-ajaran-Nya. Kemunculan
egoisme, seperti egoisme individu, egoisme partai, agama, suku dan berbagai
egoisme yang lain, yang sekarang cenderung semakin meningkat dalam masyarakat
kita, dan hal ini hanya akan mengantarkan kita kepada kekalahan dan kehancuran.
Lihatlah misalnya dari segelintir eksekutif dan anggota legislatif kita,
baik di pusat maupun di daerah terkadang berjuang untuk memenuhi kepentingan
individu dan kelompoknya, jalan-jalan ke luar pulau bahkan ke luar negeri
dengan dalih studi banding untuk menghamburkan uang negara, berjuang untuk
kenaikan tunjangan struktural dan fungsional, tanpa memperhatikan di
sekelilingnya betapa banyak rakyat yang sedang menderita akibat berbagai
musibah dan bencana dari mulai banjir, longsor, gempa sampai musibah lumpur,
yang semuanya sangat membutuhkan uluran tangan berupa bantuan dan sumbangan
untuk menyelamatkan mereka.
Bukankah ini contoh-contoh konkrit dalam kehidupan kita yang merupakan
sifat-sifat kebinatangan yang harus disembelih dan harus kita kurbankan demi
penyatuan dengan kehendak Allah swt. sang Pemilik Tunggal dari kita dan jagad
raya ini.
Sanggupkah kita menyembelih sifat dan sikap yang tercela pada diri kita?
Sanggupkah kita mengorbankan sikap-sikap kita yang banyak mementingkan diri
sendiri? Kunci kesanggupannya kita menyembelih sifat-sifat kebinatangan kita
terletak pada kesadaran diri kita akan makna pandangan hidup Inna lillahi wa
inna ilaihi raji`un beserta dengan aktualisasinya.
Jika kita merasa bahagia karena memiliki mobil bagus, rumah yang indah
dan mewah, deposito rupiah/dollar jutaan, kedudukan yang basah, status sosial
yang tinggi, berarti kita masih memiliki dan memilih pola hidup memiliki, dan
alangkah rendahnya kita pada berbagai persoalan bila hati kita diletakkan pada
benda-benda yang kita miliki, menyebabkan kita bisa merasa kecewa saat kita
gagal meraih dan mempertahankan kedudukan, marah pada saat yang kita miliki
dirusak atau diambil oleh orang, bermuram durja ketika teman dan keluarga
menjauhi. Bila demikian, betapa kebahagiaan ini, kita gantungkan pada orang
lain, sehingga kebahagiaan itu sangat ditentukan oleh apa-apa yang ada di luar
diri kita, dan bukan oleh diri kita sendiri. Sehingga tanpa kita sadari, diri
kita jadikan robot yang sepenuhnya sangat tergantung dan ditentukan oleh
lingkungan di mana kita hidup dan berada.
Untuk inilah Allah swt. dalam al-Qur’an memperingatkan kepada kita untuk
tidak merasa memiliki karena semua unsur yang kita miliki adalah ujian dan
cobaan bagi kita, seperti firman Allah swt. dalam surah al-Taghabun ayat 15
إنما أموالكم
وأولادكم فتنة والله عنده أجر عظيم
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di
sisi Allahlah pahala yang besar."
Allahu
Akbar 3x walillahil hamd
Hadirin
Jama`ah ied yang berbahagia,
Seorang yang berpola hidup ‘menjadi’, tidaklah membuang semua yang
dimilikinya, tetapi menggunakan semua itu untuk mengembangkan dirinya.
Kebahagiaannya tidak terletak pada benda-benda mati, tetapi pada peningkatan
kwalitas hidupnya, baik psikologis maupun spiritual. Ia bahagia karena ia
berhasil menjadi apa yang ia dapat ‘menjadi’ demi meraih ridha Allah swt.,
seperti itulah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail as.
Secara spiritual, apa yang diteladankan nabi Ibrahim dan Ismail as itu,
menunjukkan kepasrahan atau kepatuhan yang total dari hamba Allah dalam
menunaikan ibadah. Dan kepatuhan itu manfaatnya tiada lain hanya bagi manusia
itu sendiri, bukan untuk Tuhan.
Nilai spiritual lainnya dari ibadah qurban adalah keberanian menanggung
resiko yang berat sebagai bentuk kecintaan kepada Allah swt. melebihi kecintaan
kepada yang lainnya. Harta, kedudukan, bahkan jiwa sekalipun tak ada artinya
jika demi mahabbah atau cinta kepada Allah. Inilah sikap bertauhid yang
murni dan sekaligus menunjukkan keimanan dan ketakwaan yang tinggi. Bagi Allah
sendiri, ketakwaan itulah yang akan menjadi neraca hisab ibadah qurban dari
hamba-hamba-Nya, bukan karena daging dan darah hewan yang diqurbankan. Sikap
berkurban secara total kepada Allah yang demikian itu bukan berarti Islam
mengajarkan hidup untuk sengsara dan menafikan dunia. Kecintaan yang total
demikian pun bukan untuk Allah, tetapi untuk kebaikan manusia sendiri agar
manusia pandai mencintai dan berkorban untuk sesama manusia tanpa pamrih.
Kini, ketika di negeri ini tengah prihatin akan nasib puluhan juta
saudara kita yang berada dalam garis kemiskinan dan nasib mereka yang
terpinggirkan dalam sistem kehidupan, nasib saudara-saudara kita yang tengah
ditimpa berbagai macam bencana yang menyebabkan mereka kehilangan tempat
tinggal dan mata pencaharian, sebenarnya ibadah qurban mengajak kepada mereka
yang berkecukupan agar menunjukkan solidaritas sosial yang tulus dengan jalan
menyisihkan sebagian kekayaan dan asset yang dimiliki untuk mereka yang
membutuhkan. Jika mereka yang kebetulan sedang dilapangkan rezkinya oleh Allah,
masih belum mampu berkorban dalam segala hal, bukan karena tidak ada kekayaan,
tetapi karena miskinnya kesadaran mereka. Bukankah Rasulullah saw. pernah
mengajarkan bahwa bukan dari dari golongan umatnya orang yang perutnya kenyang,
padahal tetangganya kelaparan.
Dengan semangat ibadah qurban, seyogyanya dapat meggerakkan dan
mengembangkan kesadaran sosial setiap orang yang memiliki asset ekonomi dan
kekuasaan berlebih untuk melakukan pemerataan sosial ekonomi yang lahir dari
kesadaran internal atau moral agar proses pembangunan keadilan sosial dalam
kehidupan sosial ekonomi masyarakat dapat terwujud.
Dengan demikian, ibadah qurban yang dilakukan oleh umat Islam, berfungsi
tidak hanya untuk bertaqarrub ila Allah, dekat kepada Allah, tetapi juga
taqarrub ila al-nas, saling dekat dan akrab di antara sesama manusia.
Dalam era reformasi, taqarrub ila al-nas inilah yang agaknya semakin
sirna dari diri kita, sehingga justeru semakin saling menjauh, saling menista
dan berpecah belah.
Allahu
Akbar 3x walillahil hamd
Hadirin
Jama`ah ied yang berbahagia,
Demikianlah beberapa hikmah yang dapat dipetik dari pelaksanaan ibadah
qurban yang mengambarkan betapa tingginya nilai-nilai dari setiap ajaran Islam
yang tercinta ini. Sebagai umat yang beriman kita semua sangat mengharapkan
kiranya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Islam ini dapat kita
raih, dapat kita hayati, dan lebih penting lagi dapat kita terapkan dan
implementasikan dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan individu kita maupun
dalam kehidupan sosial, termasuk di dalamnya kehidupan berbangsa dan bernegara
di tanah air Indonesia tercinta ini.
Dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, nilai-nilai luhur
dalam ibadah qurban tersebut sungguh-sungguh sangat relevan. Bangsa kita yang
sekarang sedang berjuang keras mengatasi berbagai persoalan bangsa yang
bersifat multi dimensi, baik yang berskala nasional maupun lokal dalam hampir
seluruh aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, agama dan sebagainya.
Berbagai persoalan besar yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini, bila tidak
segera diselesaikan dan diatasi dengan baik dan arif dapat berakibat fatal bagi
kelangsungan hidup bangsa yang besar ini.
Aceh yang belum pulih dari bencana tsunami 2 tahun silam, di saat
sebagian rakyatnya masih hidup di barak-barak pengungsian, jembatan belum
tuntas dibangun ulang, kini mereka kembali ditimpa musibah banjir yang kembali
merenggut nyawa dan memporakporandakan pemukiman. Lumpur lapindo di Sidoarjo
yang terus menenggelamkan beberapa desa yang sudah lebih dari dua ratus hari
belum mendapatkan solusi, tanah longsong, gempa bumi, dan berbagai musibah
lainnya di negeri ini yang seakan tidak pernah berhenti. Persoalan lain yang
juga mengancam adalah gejala melemah dan renggangnya solidaritas sosial dalam
kehidupan bermasyarakat, masalah perekonomian nasional yang masih terpuruk dan
telah menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk miskin dan amat miskin, yang
konon hampir mencapai separuh dari penduduk negeri ini, yang semuanya mendesak
untuk segera diatasi.
Inilah sebagian dari persoalan bangsa yang kita hadapi. Kita belum
bicara tentang berbagai tantangan global yang mau tidak mau harus kita hadapi
dengan segala resikonya. Mampukah kita menjalani era globalisasi dengan segala
implikasinya itu dalam keadaan memikul beban domestik yang begitu berat?
Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk bersikap pesimis, namun sebaliknya
bertujuan untuk memberi motivasi kepada seluruh komponen bangsa agar turut
prihatin dan sedapat mungkin ikut menyumbangkan pemikiran ataupun aksi yang
signifikan guna membantu bangsa kita keluar dari kemelut dan krisis yang multi
dimensi ini.
Sebagai warga negara yang baik, apalagi sebagai muslim yang baik, kita
tidak bisa bersikap apatis dan berpangku tangan, apalagi hanya berposisi
sebagai tukang cela, tukang kritik, tukang hujat, tukang gunjing, apalagi
sebagai tukang fitnah, tukang kompor dan provokator, tanpa memberi sumbangan
nyata dan solusi terbaik terhadap perkembangan masyarakat. Sebab sikap seperti
itu hanya akan lebih memperparah situasi bangsa yang sedang berusaha melakukan recovery
di berbagai aspek kehidupan.
Nilai-nilai
luhur dalam ibadah qurban seperti diutarakan di atas, sekali lagi
sungguh-sungguh sangat relevan untuk kita implementasikan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di manapun kita berada dan profesi
apapun yang kita tekuni, yang jelas kita harus senantiasa menebarkan rahmat
bagi seluruh alam. Kita harus menjadi sholeh secara individual dan sholeh
secara sosial sebagai buah dari kegairahan beragama yang bernuansa
ritual-spiritual, sehingga ditubuh bangsa ini tidak mekar korupsi dan kolusi,
praktik politik yang kotor, pelanggaran ham, sadisme, kriminalitas, dan
berbagai wajah buruk lainnya. Sekali lagi, pengorbanan dan sumbangan nyata dari
seluruh komponen bangsa ini sangat diharapkan untuk menyelesaikan berbagai
persoalan yang dihadapi oleh bangsa tercinta ini.
Allahu
Akbar 3x walillahil hamd
Hadirin
Jama`ah ied yang berbahagia,
Akhirnya
mari kita menengadahkan tangan, menyatukan hati dan pikiran, sambil memasrahkan
diri kita kepada Allah, memohon Ridha-Nya, mengharapkan ampunan-Nya, sembari
mengaku dengan tulus segala kesalahan dan dosa yang selama ini kita perbuat,
sambil berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, sambil bertekad untuk mengisi
hari-hari depan ini dengan amal-amal kebajikan yang diridhai-Nya.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضي الحاجات
اللهم ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكوننا من الخاسرين
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطلا
وارزقنا اجتنابه
اللهم أصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا وأصلح لنا
دنيانا التى فيها معاشنا وأصلح لنا أخرتنا التى اليها معادنا واجعل الحياة زيادة
لنا فى كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر.
اللهم افتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين
اللهم اغفرلنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا
Ya
Allah, Ya Rahman Ya Rahim
Kami
bersimpuh di hadapan kebesaran dan Keagungan-Mu, mengadukan diri kami yang hina
berlumur dosa. Tidak terhitung banyaknya waktu yang telah kami jalani hanya
kami isi dengan amalan yang mendatangkan dosa. Tidak sedikit tenaga maupun
harta kami buang hanya menjadikan kami semakin jauh dari keridhaan-Mu dan
keridhaan sesama manusia.
Ya
Allah, tidak jarang di antara kami yang menganggap diri paling pintar, paling
saleh dan paling hebat, yang menyebabkan kami lebih mudah menimpakan kesalahan
dan kegagalan kepada orang lain.
Ya
Allah Ya Tuhan kami, Ampuni dosa-dosa kami, sekiranya Engkau tidak mengampuni
kami, maka tentu saja kami termasuk orang-orang yang sangat merugi.
Ya
Allah, maafkan dosa ibu-bapak kami, sayangi dan rahmatilah mereka, dan berikan
mereka tempat yang terhormat di sisi-Mu.
Ya Allah, kayakanlah kami
dengan ilmu pengetahuan, hiasilah diri kami dengan kesabaran, kerendahan hati
dan kehalusan budi, muliakan kami dengan ketakwaan, dan indahkanlah diri kami
dengan karunia kesehatan dari-Mu, agar kami bisa merasakan betapa indahnya
menjalani hari-hari kami yang dipenuhi dengan segala karunia-Mu itu.
اللهم اجعل جمعنا هذا جمعا مرحوما
وتفرقنا من بعده تفرقا معصوما ولا تجعل فينا أو منا شقيا ولا محروما, اللهم لاتدع
لنا فى مقامنا هذا ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا عيبا إلا سترته ولا مريضا
إلا شفيته ولا طالبا إلا نجحته ولا حاجة من حوائج الدنيا والأخرة هي لك رضا ولنا
صلاحا إلا قضيتها ويسرتها يا رب العالمين.
اللهم
ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحين
ربنا
أتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
Oleh:
H. Aan Farhani, Lc., M.Ag.
Komentar
Posting Komentar